Pernyataan ini pun membuat ketegangan yang terjadi di internal pemerintahan Georgia kian memanas.
Saat ini, “Gacaria demi Georgia” menjadi satu-satunya partai oposisi yang masih menyisakan kadernya di kursi parlemen.
Partai-partai oposisi lainnya memilih menolak hasil Pemilihan Umum Parlemen 2024 karena menganggap prosesnya tidak transparan.
Alhasil, mereka secara serentak mengumumkan pengunduran diri dari kursi kedewanan sebagai bentuk aksi boikot.
Gelombang konflik politik di Georgia sendiri telah bergejolak sejak akhir tahun 2024.
Krisis ini dipicu oleh keputusan mendadak pemerintah yang membekukan negosiasi keanggotaan Uni Eropa, sebuah langkah yang langsung memantik demonstrasi besar-besaran di berbagai wilayah negara.
Kendati pemerintah telah menerapkan tindakan tegas untuk membatasi ruang gerak massa berkumpul, aksi protes dalam skala besar maupun kecil dilaporkan masih terus berlangsung secara berkala hingga saat ini.

