Kericuhan melanda ruang sidang parlemen Georgia setelah sejumlah anggota dewan dari kubu pemerintah dan partai oposisi terlibat aksi adu jotos.
Georgia terletak di kawasan Kaukasus, tepat di persimpangan Eropa Timur dan Asia Barat.
Jarak Jakarta ke Tbilisi, ibu kota Georgia, sekitar 8.185 km dengan waktu penerbangan langsung rata-rata 10 jam, menurut Air Miles Calculator.
Insiden memalukan ini terjadi di tengah pidato tahunan Perdana Menteri Georgia, menggambarkan eskalasi konflik politik yang terus memanas di negara tersebut.
Ketegangan Saat Pidato Perdana Menteri
Aksi baku hantam ini pecah pada hari Jumat petang waktu setempat (26/6/2026) di kala Perdana Menteri Georgia Irakli Kobakhidze tengah memaparkan laporan tahunannya di hadapan sidang parlemen.
Momentum tersebut dimanfaatkan oleh para anggota parlemen dari kubu oposisi untuk melancarkan kritik tajam kepada pemerintah.
Pihak oposisi menuduh pihak eksekutif telah merusak fondasi demokrasi dan sengaja membelokkan arah kebijakan negara keluar dari jalur keanggotaan Uni Eropa.
Suasana di dalam ruang sidang mendadak mencekam tatkala sesi debat oposisi berlangsung hingga memicu bentrokan fisik.
Ketegangan berujung pada aksi saling pukul antara anggota dewan yang beranjak dari tempat duduk mereka..
Meski beberapa legislator lain berupaya melerai dan menghentikan perkelahian, situasi telanjur tidak terkendali hingga memicu tawuran massal di dalam ruang sidang utama.
Saling Tuduh soal Provokator
Perwakilan dari partai oposisi “Gacaria demi Georgia” menyatakan bahwa anggota dari partai penguasa, yakni Partai Impian Georgia (Georgian Dream), merupakan pihak pertama yang menyerang anggota oposisi.
Di sisi lain, Perdana Menteri Kobakhidze menolak klaim tersebut dan justru menuduh balik kubu oposisi sebagai provokator utama di balik keributan ini.
Merespons insiden itu, Perdana Menteri Kobakhidze pun buka suara.
“Ketika oposisi tidak lagi memiliki argumen untuk disampaikan, mereka beralih menggunakan bahasa yang kasar, hinaan, dan kekerasan.” terang Kobakhidze.

