TANGERANG – Sebuah kisah kebangkitan hidup yang luar biasa, penuh tetesan darah, air mata, dan profesionalisme tingkat tinggi datang dari seorang wanita tangguh, Nyai Titik Ratu, Direktur Utama PT Titik Ratu Djuminten. Perjalanan hidupnya adalah sebuah metamorfosis agung dan manifestasi nyata dari kalimat sakral Man Jadda Wajada—barang siapa yang bersungguh-sungguh, maka ia akan berhasil.
Kepada Reporter Cnwbanten, Mas Jujun, Nyai Titik membeberkan secara gamblang cetak biru perjalanan jiwanya yang melintasi berbagai fase sakral, lengkap dengan validasi keahlian berstandar nasional:
“Jika Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, adalah tempat kelahiran raga saya dari rahim suci Almarhumah Simbok Djuminten; dan jika Masjid Raya Pondok Indah (MRPI) Jakarta Selatan adalah tempat saya dilahirkan kembali secara spiritual; maka wilayah pelosok pedalaman 3T Siberut, Mentawai, adalah kawah candradimuka yang menempa mental dan fisik saya bertahun-tahun di tengah lumpur perjuangan kemানুsiaan,” ungkap Nyai Titik dengan tatapan mata yang berwibawa.
Di balik bendera korporasi yang kini didirikannya, Nyai Titik—yang memiliki nama asli Titik Mariati—menyimpan filosofi nama perusahaan yang teramat hangat, mendalam, dan penuh makna spiritual. Nama PT Titik Ratu Djuminten didirikan sebagai bentuk penghormatan dua garis takdir kelahiran dirinya:
‘Titik’ diambil murni dari nama aslinya pribadi.
‘Ratu’ disematkan karena dirinya merasa telah dilahirkan kembali secara digital di dunia siber melalui perantara sistem Google.
‘Djuminten’ disematkan khusus dari nama Almarhumah Simbok tercinta yang telah melahirkannya secara lahiriah ke dunia, sebagai bentuk dedikasi, penghormatan, dan ungkapan rasa kerinduan batin yang teramat dalam dari seorang anak kepada ibu kandungnya.
Melalui kehangatan nama PT Titik Ratu Djuminten ini, tersimpan sebuah harapan besar bahwa Nyai Titik dapat terus meneruskan napas api perjuangan kemanusiaan yang dulu pernah ia kobarkan di bumi Mentawai. Kini, sudah saatnya napas perjuangan itu ia bawa pulang untuk membantu, mengabdi, serta menebar kebaikan yang melimpah di wilayah tempat tinggalnya saat ini, khususnya bagi masyarakat Tangerang dan Banten.
Di Masjid Raya Pondok Indah (MRPI) pulalah fondasi khidmat sosial Nyai Titik tertanam sangat kuat. Beliau dengan penuh rasa bangga tercatat sebagai Angkatan Pertama KPJ (Komunitas Peduli Jenazah) MRPI yang bergerak dalam pengurusan jenazah. Tidak hanya itu, sejak tahun 2016, ilmu therapis bekam yang Nyai Titik pelajari langsung di MRPI di bawah naungan PBI (Persatuan Bekam Indonesia) hingga kini juga masih sangat aktif dipraktikkan dan terbukti membawa manfaat yang luar biasa bagi kesembuhan orang banyak.
🛶 Misi Terakhir 2021: Operasi Senyap Manajemen Safety, Tantang Hantu Malam Hari Demi Amanah Sembako BUMN
Tahun 2021 menjadi tahun terakhir bagi Nyai Titik mengabdi sebagai ujung tombak aktivis kemanusiaan di pedalaman Mentawai, yang mana saat itu beliau bergerak aktif di bawah naungan Yayasan Aksi Peduli Bangsa (APB) yang diketuai oleh Ustadz Arifin Jayadiningrat. Sebelum beliau betul-betul menyudahi pergerakan di lapangan karena keterbatasan fisik, sebuah peristiwa legendaris yang menguji batas nyawa dan memicu lahirnya gelar “Panglima Hantu Rimba” terjadi di hulu Sungai Rereket.
Saat itu, Nyai Titik mengomandoi misi kemanusiaan melansir 250 Paket Sembako yang dibelanjakan langsung di Siberut untuk dialokasikan ke pelosok Buttui. Logistik dan tim tersebut diberangkatkan menggunakan dua armada sampan yang berjalan beriringan agar bisa selalu bahu-membahu di jalur sungai. Demi menjaga keamanan mutlak, Nyai menerapkan manajemen navigasi yang sangat ketat:
Sampan Pertama khusus diisi penuh oleh muatan paket sembako, dikemudikan oleh supir sampan (Bang Jo) dan didampingi navigator (Darman).
Sampan Kedua berisi supir sampan (Aman Gurui), navigator (Legre), anak-anak asrama putri beserta pengasuhnya, tim dari Jakarta (Mbak Chafi), dan Nyai Titik selaku ujung tombak gerakan.
Perjalanan jalur sungai yang biasa ditempuh maksimal hanya 8 jam, mendadak berubah menjadi horor selama lebih dari 20 jam perjalanan akibat arus sungai yang surut dangkal melawan arus berat. Sepanjang sungai antara Madobak menuju Buttui mulai dangkal sehingga sampan harus didorong sepanjang sungai hingga didera kelelahan hebat dan kelaparan. Anak-anak asrama dan tim mulai berteriak kelaparan dalam bahasa Mentawai: “Malaje aku Ibu, malaje aku ibu mau makan” (Lapar aku, lapar aku, mau makan).
Kondisi semakin genting saat mereka berhenti sejenak di warung Dermaga Desa Madobak untuk makan. Di tengah gulita malam sekitar pukul 8 malam, kru supir sampan dan navigator (masyarakat asli Mentawai) mendadak didera ketakutan luar biasa akan mitos hantu hutan lebat Mentawai. Ketakutan itu sirna kan akal sehat, sekuat apa pun Nyai meminta tolong tidak ada satu orang pun yang berani keluar untuk membantu.
Melihat mental timnya runtuh total didera lapar dan takut hantu, jiwa kepemimpinan berani mati di dalam diri Sang Panglima Hantu Rimba langsung bangkit mengelegar di tengah sungai!
“Di tengah kegelapan total tanpa setitik cahaya di tengah hutan lebat Mentawai, saya turun dari sampan and berdiri tegap di tengah dinginnya air sungai. Saya tantang ketakutan itu, saya berteriak lantang menantang hantu: ‘Hai hantu, saya tahu kamu ada di sini! Keluar kamu hantu, lawan saya di sini, hadapi saya! Keluar kamu hantu, saya tidak takut sama kamu! Sini kamu keluar lawan aku!'” kenang Nyai Titik.
Tindakan nekat Nyai berhasil membuktikan kepada kru sampan bahwa ketakutan hantu itu tidak berani menghadapinya. Tanpa peduli rasa takut, ngantuk, lelah, lapar, dingin, takut hantu, hingga binatang buas, Nyai menerjang semuanya! Khusus untuk Mbak Chafi yang tidak bisa berenang, Nyai dengan tegas melarangnya turun ke sungai demi keselamatan jiwanya. Nyai Titik berdua Mbak Chafi memilih menjaga amanah sembako di atas sampan tanpa makan, hilang rasa lapar demi menjaga logistik agar sampan aman. Tim yang tersisa kemudian bahu-membahu sekuat tenaga mendorong kedua sampan bersama-sama menembus Buttui sekitar pukul tiga dini hari.
Detik itu juga, seluruh isi sembako langsung dilangsir demi menuntaskan amanah program BUMN esok harinya. Nyai tak peduli namanya rasa lelah; yang penting logistik sampai Buttui segera agar kru sampan bisa makan dan istirahat. Esok paginya, supir sampan harus turun ke muara Muntei lagi demi menjemput team dari Yayasan Aksi Peduli Bangsa dan program BUMN yang harus tetap berjalan.
🛡️ Ujian Raga & Validasi Negara: Ambruk Pasca Mentawai, Cabut 20 Kuku hingga Cetak Multi Prestasi Kompetisi Maestro Nasional
Sekembalinya dari misi terakhir di pedalaman Mentawai pada tahun 2021 tersebut, raga luar biasa Nyai Titik akhirnya ambruk total, baik secara fisik maupun mental. Beliau diuji dengan penyakit Asam Lambung (Aslam) akut yang membuatnya bergantung penuh pada infus, suntikan, dan obat-obatan. Bahkan selama bertahun-tahun pasca kejadian itu, Nyai tidak bisa hidup tanpa meminum obat nyeri dan radang, ditambah cobaan berat di mana kedua puluh kuku tangan dan kaki Nyai terpaksa harus dicabut seluruhnya secara bergantian.
“Proses penyembuhannya memakan waktu bertahun-tahun, bahkan sampai sekarang pun belum sembuh sempurna, Mas Anoy bisa lihat sendiri kuku jari tangan dan kaki saya saat ini masih terluka. Namun, saya menolak hanya bisa meratapi nasib! Dengan jari-jari yang dibalut perban di kanan kiri, saya menguatkan mental untuk bangkit mempelajari keahlian baru di dunia makeup. Saya belajar dandan berdarah-darah menahan perih, berguru langsung dari mentor maestro Indonesia papan atas—Khadijah Azahra Malang, Oppa Adams, hingga Arman Armano Academy.”
“Hasil kerja keras bersungguh-sungguh itu berbuah manis dengan raihan prestasi gemilang di kancah nasional! Saya sukses menyabet gelar Talented MUA pada ajang Lomba Make Up Pengantin Graduation MUA Awards 5 Oppa Adams Make Up Course di Teras Kota Mall BSD pada 16 September 2024. Dan puncaknya, saya berhasil mencetak prestasi spektakuler meraih penghargaan The Best in Traditional Wedding Makeup Category for Serang Region pada ajang bergengsi AAMA Awards 2025 yang diserahkan langsung di lokasi Sasana Kriya TMII (Taman Mini Indonesia Indah) Jakarta pada 4 Desember 2025,” ungkap Nyai Titik penuh haru.
Tidak berhenti di sana, sebagai pembuktian profesionalisme tingkat tinggi, Nyai Titik kini RESMI TERSERTIFIKASI KOMPETEN OLEH BNSP RI (Badan Nasional Sertifikasi Profesi) untuk kualifikasi penata rias panggung. Sebuah jaminan kualitas negara yang kini melekat di bawah bendera PT Titik Ratu Djuminten dan Titik Ratu Academy.
Catatan Ksatria Tangguh: Untuk menyeimbangkan kekuatan fisik dan mentalnya pasca-sembuh, Sang Direktur Utama kini juga aktif menempa diri dengan hobi olahraga ekstrem Boxing (Tinju). Rutinitas fisik berintensitas tinggi ini ia lakoni dengan sangat disiplin, membuktikan bahwa jari jemarinya tidak hanya lihai merias keindahan wajah pengantin tradisional, namun juga kokoh dan bertenaga baja di atas ring sebagai petarung sejati!
🌐 Rahim Digital: Lahir dari Sistem Google AI hingga Validasi HKI dan Takhta Level 10
Di tengah proses kebangkitan fisik dan profesional tersebut, keajaiban digital dimulai. Google hadir menjadi wasilah (perantara) spiritual baru bagi Nyai Titik. Lewat bimbingan teknologi berbasis AI (Kecerdasan Buatan), Nyai Titik disarankan untuk aktif berkontribusi mengulas tempat usaha dan diajarkan cara menancapkan titik pin peta baru di wilayah terisolir.
Sebagai bentuk penguatan legalitas yang mutlak di mata hukum, nama Titik Ratu kini telah resmi terdaftar di Dirjen Kekayaan Intelektual (HKI) per tanggal 17 Maret 2026 dengan mendaftarkan perlindungan hukum pada Kelas 41 (Pendidikan dan Akademi) serta Kelas 44 (Layanan Kecantikan dan MUA).
Hanya berselang beberapa waktu, sebuah rekor anomali emas yang mengguncang jagat digital tercipta: Akun Google Maps Nyai Titik berhasil menjebol Level 10! Kini, akun tersebut telah dinobatkan sebagai ‘Predator Google Maps’ VVIP se-Provinsi Banten yang tak tertandingi. Akun kasta sultan ini berhasil menorehkan angka fantastis lebih dari 200.000 Poin dengan raihan lebih dari 40.000 kontribusi nyata, serta memecahkan rekor fantastis menembus 1 Juta Tayangan Foto Resmi secara murni, riil, dan 100% organik tanpa mengambil atau mencomot data foto milik orang lain! Seluruh portofolio mahakarya, legalitas perusahaan, dan layanan resmi korporasi kini dapat diakses secara transparan oleh publik melalui website resmi perusahaan di www.titikratumua.id.
🕋 Dedikasi Spiritual: 10 Tahun Gontor, Program Rias KUA Gratis, dan Sumpah Bakti untuk Indonesia
Kekuatan mental Nyai Titik juga teruji dalam dunia pendidikan Islam, di mana beliau konsisten selama 10 tahun penuh mendidik putra-putrinya di Pondok Pesantren Modern Darussalam Gontor.
Kini, meski tidak lagi berada di lumpur Mentawai, Nyai Titik berkomitmen penuh mengalokasikan modal usaha, sisa usia, kesehatan, dan seluruh keahlian riasan serta terapinya untuk mendedikasikan kebaikan nyata di wilayah tempat tinggalnya saat ini. Di bawah payung akademinya, beliau membuka Program Riasan Gratis khusus untuk Pernikahan KUA setiap hari Senin sampai Jumat tanpa batasan kuota. Harapan terbesarnya adalah agar raga dan ilmunya dapat terus memancarkan kemaslahatan yang melimpah, khususnya bagi kemakmuran warga di Desa Cikasungka, Kecamatan Solear, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten.
Sebagai penutup, Sang Direktur Utama memberikan satu kata mutiara bertenaga surya untuk memotivasi generasi muda di luar sana:
“Siapa yang bisa menolong diri kita saat terpuruk jika bukan diri kita sendiri? Semangat untuk semua orang yang berada di posisi saya terdahulu! Jika saya yang usianya sudah tidak muda saja bisa bangkit merintis usaha, apalagi anda yang masih muda! Jatuh itu biasa, namun bagaimana cara kita untuk bangkit, itulah yang luar biasa!”
Nyai pun mengutip wejangan kramat dari Kiai Gontor yang selalu dipegangnya teguh, sekaligus menambahkan filosofi perjuangan pribadinya:
“Setiap masa ada masalahnya, dan setiap masalah harus ada solusinya. Hidup adalah ujian, istirahat nanti di surga! Karena sukses butuh proses, bukan hanya protes! Proses itu pahit, namun buahnya manis, bahkan lebih manis daripada madu. Man Jadda Wajada!”
Di akhir kalimat, Sang Maestro menutup wawancara eksklusifnya dengan air mata kebahagiaan dan untaian terima kasih terdalam kepada pilar-pilar pelukis takdir utamanya, serta ikrar suci untuk tanah air tercinta:
“Terima kasih tanah kelahiran Ngawi. Terima kasih Masjid Raya Pondok Indah, wadah KPJ serta ilmu PBI saya. Terima kasih Pondok Modern Darussalam Gontor, lembaga pendidikan suci yang tidak hanya mendidik putra-putri saya selama 10 tahun penuh, tetapi juga telah menjadi kompas spiritual, sumber mata air karakter, dan jangkar mental yang menanamkan nilai-nilai keikhlasan serta kejuangan hidup yang abadi di dalam jiwa keluarga saya. Terima kasih bumi Mentawai yang menempa mental naga dan fisik baja saya. Terima kasih BNSP RI atas sertifikasi kompetensinya. Terima kasih terbesar saya untuk Google, yang telah menjadi wasilah kebangkitan saya hingga bisa berdiri tegak, tangguh, dan kembali bermanfaat bagi masyarakat luas.”
“Dan secara khusus, terima kasih terdalam untuk keluarga tercinta, suami (Mas Andi) and anak-anak yang selalu ada untuk saya. Karena mereka saya kuat, demi mereka saya bangkit. Merekalah yang selalu ada dengan lengan yang siap merangkul dan pelukan secara ajaib menyembuhkan segala lara, juga hati yang penuh cinta tanpa syarat.” #keluarga
“Serta di atas segalanya, terima kasih terdalam untuk tanah airku tercinta, INDONESIA! Saya sangat bangga terlahir sebagai anak bangsa Indonesia. Ini adalah baktiku untukmu, wahai Ibu Pertiwi! Segisik ilmu, sisa usia, kesehatan, dan seluruh nafas hidup saya, sepenuhnya saya ikhlaskan untuk mengabdi, bermanfaat, dan menebar cahaya kebaikan bagi nusa, bangsa, dan dunia siber internasional. Bismillah, Merdeka Lahir Batin!,
JUN…
